Judul Guru, Anak, dan Kisah Leluhur: Menghidupkan Cerita Rakyat Madura Lewat Modul dan Literasi Digital
Penulis Moh. Hafid Efendy
Mochamad Arifin Alatas
Fiyan Ilman Faqih
Ika Cahya Adiebia
Halaman 162 hlm
Cover Soft Cover
Ukuran 15.5×23 cm
ISBN 978-634-7376-72-5

 

“Guru, Anak, dan Kisah Leluhur: Menghidupkan Cerita Rakyat Madura Lewat Modul dan Literasi Digital”

Buku ini berangkat dari sebuah kegelisahan sederhana namun penting: anak-anak Madura lebih mengenal Cinderella, Elsa, atau Malin Kundang daripada tokoh lokal seperti Jokotole atau Arya Wiraraja. Realitas di sekolah menunjukkan bahwa cerita-cerita leluhur yang dulu hidup dari mulut ke mulut kini nyaris tak terdengar di ruang kelas. Anak-anak tumbuh tanpa mengenali akar budayanya seperti pohon yang kehilangan tanah tempat ia menancapkan diri.

Melalui serangkaian kisah nyata, refleksi pendidikan, dan pengalaman pendampingan, buku ini mengajak pembaca mengikuti perjalanan budaya yang sempat meredup, tetapi mulai kembali menyala. Dimulai dengan memahami pentingnya cerita lokal bagi identitas dan karakter, pembaca disuguhi gambaran tentang kearifan Pulau Garam dari kehidupan nelayan, ladang garam, hingga pesantren dan istana Sumenep yang menjadi sumber nilai moral dan kebijaksanaan bagi generasi muda.

Bagian inti buku menceritakan sebuah proses penuh harapan: pelatihan guru yang mengubah ruang kelas menjadi ruang bercerita. Dari rasa canggung menggunakan teknologi, para guru akhirnya menemukan pintu baru melalui perpustakaan digital University of Iowa, yang menyimpan naskah cerita rakyat Madura dengan rapi jauh dari tanah kelahirannya. Kejutan, tawa, bingung, hingga haru mewarnai pengalaman guru ketika menemukan kembali cerita yang selama ini dianggap hilang.

Pelatihan itu bukan hanya membuka akses, tetapi menumbuhkan kemampuan baru: guru menjadi pencipta modul berbasis cerita rakyat, bukan sekadar pengguna buku paket. Modul-modul itu membawa kembali legenda Madura ke sekolah dari Bangkalan hingga Sumenep dan anak-anak mulai menyambut leluhur mereka dengan mata berbinar, imajinasi luas, serta kebanggaan yang tumbuh dari dalam diri.

Bab lanjutan menggambarkan bagaimana cerita rakyat mengubah cara anak-anak memandang diri dan dunianyamembangun karakter, memperkuat identitas lokal, dan menumbuhkan rasa ingin tahu kritis. Buku ini menegaskan bahwa pelestarian budaya bukan tugas guru semata, tetapi kerja bersama antara sekolah, keluarga, dan desa. Di masa ketika tradisi lisan nyaris terputus, teknologi hadir bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai jembatan untuk memperpanjang suara leluhur.

Akhirnya, buku ini menjadi ajakan nyata kepada para guru, orang tua, pegiat pendidikan, dan masyarakat Madura untuk mendokumentasikan, menghidupkan kembali, dan membagikan cerita rakyat dari kampung masing-masing. Sebab setiap kisah yang dituliskan hari ini adalah warisan yang akan membentuk karakter generasi mendatang.

Dengan bahasa yang hangat, inspiratif, dan dibangun dari pengalaman lapangan, buku ini menjadi bukti bahwa: ketika guru bercerita, budaya bernafas kembali.

Ketika anak-anak mendengar, Madura menemukan dirinya.

Rp84,000.00
Click to add this item to cart.